Wednesday, January 12, 2011

Organik

Satu kali wallpaper Dije, anjing saya, terpampang di laptop. Tentu bukan begitu saja terpasang. Saya yang memasang. Alasannya sederhana, kangen. Namun kesan yang ditimbulkan lebih dari sekedar pengobat rindu. Seolah lebih dari sekadar gambar mati. Ia memberi kenangan yang hidup, kenangan yang minta dilakoni. Sesungguhnya, gambar itu malah membuat kangen ini bertambah. Akhirnya dicopot.

Mungkin ada yang bertanya kenapa bisa begitu emosional. Pertama-tama, Dije sudah bersama dengan keluarga selama delapan tahun. Dan nama Dije itu adalah andil saya dalam proses perkembangannya dari hanya anjing Pomeranian yang kurus dan mengaing-ngaing, hingga menjadi anjing gemuk yang jenggongannya keras, meskipun sudah tua. Kedua, dalam berbagai kesempatan, keusilan sisi gelap saya terhadap Dije sering menimbulkan reaksi yang tidak diharapkan. Gigitan. Grrr-an. Lain waktu mengelusnya, dan dia jadi bantal.

Saturday, January 01, 2011

Kembang Api


Setiap perayaan tahun baru biasanya adalah tanda kembang api musiman. Mercon dan meriam bambu pun tak ketinggalan. Semuanya bertujuan untuk memeriahkan suasana, entah secara audio maupun visual. Asal semua gembira, yang cedera tak seberapa, tak masalah.

Namun kembang api memiliki kesan tersendiri bagi saya pribadi, terutama kembang api yang diluncurkan ke langit model aerial shell (yang baru terlihat setelah meledak di udara). Yang terdengar hanya suara 'ciiiuuuuuut', kemudian 'blar, kratak kratak kratak' ketika benda itu meledak. Seperti suara mesin balap saat downshifting, kali ini minus backfire.

Wednesday, December 29, 2010

Garuda

Saya selalu teringat burung Phoenix kalau melihat sebuah Garuda. Sama-sama simbol penting bagi pemaknanya masing-masing. Dan ketika burung api tersebut mati, ia akan hidup kembali untuk menjalani yang selanjutnya.

Ketika Garuda kalah di jiran, segenap warga negara mengharapkan kebangkitannya di tanah negeri. Namun kenyataannya, kebangkitan yang diharapkan tidak cukup untuk mengubah nasib yang ditentukan sebelumnya.

Sunday, December 26, 2010

Komoditas Musik

Satu waktu sembari mendengar musik, saya berpikir, kenapa ada begitu banyak lagu yang beredar di masyarakat? Kenapa ada musik rock (dan berbagai keturunannya), pop (mungkin mellow, karena pop adalah populer, sehingga tidak ada jenis khususnya), jazz, hip-hop, elektro, dan sebagainya? Dan lagi, ada banyaknya musisi yang menyediakan hiburan di genre masing-masing. Apa yang membuat orang begitu banyak membuat lagu?

Selamat Natal, Okto!

Pertama-tama, memang telat untuk mengucap selamat Natal saat tanggal 25 sudah mendekati akhirnya. Namun, karena ada beberapa hal yang masih bisa disampaikan, mungkin tak ada salahnya. Apalagi ini berkaitan dengan nasionalisme, patriotisme, dan kebanggaan negara dalam konteks persaingan olahraga yang selalunya mengisi hati warga negara Indonesia, menyaingi bulutangkis yang dilegendakan pamornya. SEPAKBOLA, saudara-saudara.

Wednesday, December 22, 2010

Anak-anak

27 “Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan Tuhan telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari padanya.
28 Maka aku pun menyerahkannya kepada Tuhan, seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada Tuhan.” Lalu sujudlah mereka disana menyembah kepada Tuhan.

Dua kalimat diatas merupakan penggalan dari bacaan pertama untuk hari ini, 22 Desember 2010, yang diambil dari kitab 1 Samuel bab 1. Secara pribadi, saya merenungi dua kalimat tersebut dalam konteks seorang remaja, yang berdiri diantara dua kutub, kanak-kanak dan orang dewasa.

Preambule

Apa kabar?
(not very good at this...)

Enjoy yourself, comment as you see fit, and talk if there's something to be straightened.

Adios.