Showing posts with label sosial. Show all posts
Showing posts with label sosial. Show all posts

Tuesday, August 16, 2011

Hari Anti-korupsi : Sebuah Renungan Publik dan Pribadi


Tanggal 9 Desember ternyata merupakan sebuah hari penting. Awalnya, bagi saya hari ini merupakan hari biasa saja. Matahari terbit dari timur dan tenggelam di barat, anjing-anjing saya pun masih nakal dan menjengkelkan. Tapi ketika saya lewat di salah satu jalan utama di kota Samarinda, di perempatan Lembuswana tepatnya, ada demonstrasi. Kalau tidak salah dari perkumpulan BEM, entah dari universitas yang mana.

Tuesday, June 28, 2011

Can We Really Share?

I rode my motorcycle the other day, and quickly realize that the area in which I live is already crowded. Time does fly, and it did the quiet and small suburbs into cramped polis filled with irregular buildings. I don't care about that, really. What I do care is how unregulated development and increase in personal disposable income make the small suburban roads even more cramped than before.

Jalan Rusak Tanda Bangsa Juga Rusak

Samarinda merupakan satu kota yang selalu dihantui dua masalah, yaitu banjir dan jalan berlubang setelahnya. Kaitannya jelas, fondasi jalan yang rapuh, kemudian dihantam kendaraan (lebih tepatnya truk) kelebihan muatan, dan retakan yang terjadi diisi air curahan entah darimana. Akibatnya, hampir di semua jalan terdapat lubang-lubang.

Wednesday, May 25, 2011

Pasukan Rahasia BELEK OOPS

Pertama-tama, saya bingung dan prihatin dengan kondisi negara Indonesia tercinta. Sebuah negara yang terlihat besar dan mencengangkan, namun ternyata kecil isinya. Akan kemana arah bangsa ini nanti? (alamak bahasanya...)

Di berita-berita yang muncul, kesan terhadap negara ini adalah bobrok. Ada semacam bentuk yang digunakan untuk menutup substansi. Dan pembangunan gedung DPR yang baru ini, menurut saya pribadi, menjadi titik puncak penyingkiran substansi dari kegiatan bernegara.

Friday, April 08, 2011

Toko Buku, dan Publikasi Tanpa Bungkus

Hari itu, Kamis 7 April, saya pergi ke Kinokuniya, entah yang keberapa kalinya dalam dua bulan belakangan. Kunjungan saya ke toko buku memang agak meningkat belakangan, mungkin karena sedang bingung mengisi waktu. Dan kesan saya setiap pergi ke toko buku selalu sama. Menyenangkan.

Tuesday, March 29, 2011

Telaah (yang Agak Tolol) Terhadap Revolusi

Belakangan ini seorang teman (James tepatnya) sering memberi cerita tentang Libya. Sebelumnya, saya membaca laporan khusus Tempo terhadap revolusi di Mesir. Cerita di berbagai publikasi pun seragam. Rezim diktator atau totaliter yang sedang atau sudah ditumbangkan oleh kekuatan rakyat. Ada sebuah revolusi yang bergerak.

Wednesday, March 23, 2011

Menyapa

Sabtu itu saya pergi ke salah satu retail outlet (lebih tepatnya Uniqlo @ 313), dengan tujuan membeli kemeja atau sweater. Namun karena antri kamar pas-nya panjang, berakhir dengan sweater. Saran, jangan pergi ke pusat perbelanjaan saat akhir pekan, dan waktu terbaik untuk kesana adalah hari kerja. Saya pribadi lebih suka melewatkan akhir pekan dengan belajar (ehem), atau melakukan apa saja di rumah. Di. Rumah.

Sunday, February 20, 2011

Wayang

Yesuit itu yang mungkin pertama kali memberikan cerita kuno ini dalam bentuk yang bisa dicerna orang awam. Romo Gabriel Sindhunata, SJ ini dalam bukunya 'Anak Bajang Menggiring Angin' memberikan suatu kisah Ramayana yang tidak kenthel Kejawennya. Paling tidak, ia berbahasa Indonesia baku, dibanding dengan sepenuhnya bahasa Jawa seperti dalang kebanyakan. Itu bagus. Saya cukup bisa berbahasa Jawa, tapi tidak bisa menghadapi seorang dalang dengan lidahnya, apalagi bila mendengar dari radio.

Sudut Pandang


Ada berapa banyak talkshow di dunia ini? Hampir semua menyajikan hal-hal yang kurang lebih sama. Bergantung dari kecakapan pembawa acara dalam menggaruk narasumber untuk mendapat berita, setiap awaknya dituntut untuk jadi kreatif, demi jiwa dari acara itu. Sudut pandang dari yang bertanya menentukan arah rating dan nasib acara itu.

Saturday, February 19, 2011

Sang Pemimpi

I

RCTI hari itu, tanggal 3 Januari 2011, menayangkan Sang Pemimpi. Saya ingat jelas ketika akan ada premiere film tersebut, Ariel menjadi umpan utama untuk menarik penonton, spesifiknya para perempuan muda. Satu kali saya menonton liputannya di sebuah acara infotainment, mereka seperti biasanya, histeris sambil menyambut vokalis itu.

Bersepeda

Pengalaman ini sebaiknya tidak ditiru. Satu pagi, tanpa sarapan berarti, hanya segelas air putih, saya berangkat bersepeda. Sebetulnya ini cuma iseng saja. Bapak saya akan pergi hari itu, dan rencananya kami akan berangkat bareng. Saya cuma ingin tahu apakah start saya di lampu merah sudah lebih cepat dari mobil bapak. Namun karena sopirnya belum datang, akhirnya saya duluan.

Thursday, February 17, 2011

Hilang

I

Kemarin spacebar di keyboard laptop saya kehilangan fungsinya. Entah kenapa begitu, padahal siangnya masih dipakai mengetik, dan terpakai dengan sehat. Selama ini pun, laptop itu tidak pernah digunakan bermain apapun yang memakai spacebar secara eksesif (ie. CS dan AyoDance. Kekurangan refleks sedikit banyak saya syukuri). Agak ngeri bila membayangkan kondisi spacebar yang ada di keyboard-keyboard banyak warnet yang menyediakan kedua permainan itu.

Sunday, February 13, 2011

Elite

Nasional Demokrat baru-baru saja merayakan setahun kehadirannya di tanah air. Sejujurnya, saya tidak pernah terlalu peduli terhadap apapun yang berbau politik atau berkonotasi dengan MPR, DPR, Presiden, dan kepartaian. Kecuali bila kebetulan berhubungan dengan KPK. 

Friday, February 11, 2011

Membaca

Belakangan ini, minat saya untuk membaca buku tumbuh lagi. Sempat tersendat karena ketersediaan stok film dan tv show yang lumayan, koran, dan berbagai artikel di internet lainnya. Memang cukup banyak membaca, namun bagi saya, lebih afdol kalau membaca di kertas atau buku. Koran bukanlah koran kalau tidak dicetak, buku bukanlah buku kalau tidak berkertas. Katakanlah saya kolot. Tidak marah kok. 

Wednesday, February 09, 2011

Pergi Kondangan

Satu waktu saya datang ke acara pernikahan teman dekat ibu saya. Secara pribadi, saya dan mempelai pria cukup kenal, karena beliau masuk dari bagian masa kecil saya yang ndableg. Seorang guru yang berdedikasi terhadap pekerjaannya, tulus. Meski memang hal itu masih membuatnya mengendarai motor Honda Supra yang entah dari tahun berapa.

Monday, February 07, 2011

Vox Dei

Siapakah Hosni Mubarak (atau bagaimanapun pengejaannya, saya lupa penempatan vokal 'o' dan 'u' dalam namanya)? Sontak Mesir yang kelihatannya adem-ayem itu berubah bergejolak dengan massa yang turun ke jalan menuntut dirinya mundur dari kursi pemerintahan.

Tampak dari berita di televisi, pemicunya adalah kondisi Mesir yang stagnan, saya kira. Sistem dikte yang diterapkan oleh Hosni pun dianggap menjadi biang kerok, sebab kita tahu, demokrasi adalah pangkal dari kemajuan. Dengan catatan, demokrasi itu tidak disalahgunakan.

Wednesday, January 12, 2011

Organik

Satu kali wallpaper Dije, anjing saya, terpampang di laptop. Tentu bukan begitu saja terpasang. Saya yang memasang. Alasannya sederhana, kangen. Namun kesan yang ditimbulkan lebih dari sekedar pengobat rindu. Seolah lebih dari sekadar gambar mati. Ia memberi kenangan yang hidup, kenangan yang minta dilakoni. Sesungguhnya, gambar itu malah membuat kangen ini bertambah. Akhirnya dicopot.

Mungkin ada yang bertanya kenapa bisa begitu emosional. Pertama-tama, Dije sudah bersama dengan keluarga selama delapan tahun. Dan nama Dije itu adalah andil saya dalam proses perkembangannya dari hanya anjing Pomeranian yang kurus dan mengaing-ngaing, hingga menjadi anjing gemuk yang jenggongannya keras, meskipun sudah tua. Kedua, dalam berbagai kesempatan, keusilan sisi gelap saya terhadap Dije sering menimbulkan reaksi yang tidak diharapkan. Gigitan. Grrr-an. Lain waktu mengelusnya, dan dia jadi bantal.